Kajian Pengalihfungsian Rumah Potong Hewan dan Pasar Hewan Sisir menjadi Ruang Publik

Kajian Pengalihfungsian Rumah Potong Hewan dan Pasar Hewan Sisir menjadi Ruang Publik

Pada dasarnya salah satu budaya masyarakat Indonesia adalah berkumpul dan berinteraksi dengan tetangga di dalam lingkungannya. Untuk itulah pada masa lalu di pusat – pusat pemukiman warga selalu memiliki pendopo, bale bengong atau tempat berkumpul lain. Namun dengan semakin padat dan berkembangnya wajah – wajah permukiman di Indonesia, ruang bersama semakin sulit untuk ditemui. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan masukan kepada Pemerintah Kota Batu untuk menciptakan satu ruang public pada lahan tidur di Jalan Dorowati dan Jalan Sultan Hasan Halim Kelurahan Sisir dan pengalihfungsian bangunan Rumah Potong Hewan yang merupakan bangunan “terduga cagar budaya” menjadi bangunan public dengan tetap mempertahankan bentuk asli. Metode yang digunakan adalah partisipatisi masyarakat dengan pendekatan bottom – up, yaitu melibatkan masyarakat dalam penyusunan kajian ini. Suatu perencanaan partisipatif terfokus pada kepentingan masyarakat, dinamis, bersinergi dengan tetap memiliki legalitas....
Penerapan Arsitektur Hijau pada Lingkungan Binaan

Penerapan Arsitektur Hijau pada Lingkungan Binaan

Kearifan lokal dalam perancangan kota seharusnya juga dilihat dari kearifan kita dalam memperlakukan lingkungan alamnya. Bagaimana menyatukan kreatifitas perancang dengan lingkungan alam sekitar yang menjadi pendukungnya.Pembangunan lingkungan binaan di Indonesia masih mengidap obsesi yang sedikit berlebihan terhadap modernisasi lingkungan yang kadang rela untuk mengorbankan elemen alamnya. Hal ini menyiratkan kesan bahwa kota yang tertata dengan baik adalah kota dengan bangunan – bangunan gedung baru yang serba canggih dan pintar, pembuatan jalan – jalan tol dan jalan layang. Semestinya aspek pelestarian alam dan konservasi lingkungan adalah satu aspek yang wajib pula untuk perhatikan. Tujuan dari penulisan ini adalah menggali sebanyak mungkin informasi mengenai penerapan arsitektur hijau pada perencanaan dan perancangan lingkungan binaan. Mendisain satu kota dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan alamnya. Kajian ini akan memberikan simpulan tentang konsep lingkungan binaan “arif” dengan lingkungan alamiahnya, sebagai kekayaan lokalitasnya. Berawal dari kesadaran bahwa bumi kita memiliki keterbatasan, maka keharmonisan antara alam sekitar dengan manusia mutlak untuk dilakukan. Manusia modern cenderung meninggalkan kearifan – kearifan lokal yang dianut oleh masyarakat sebelumnya demi sebuah kemodernan yang pada hakikatnya justru menjadi penyumbang terbesar dalam perusakan lingkungan. Pemanasan global menjadi isu yang semakin sering kita dengar. Lalu, apa sebenarnya yang menjadi penyumbang perusakan lingkungan kita? Keberadaan jumlah manusia yang terus bertumbuh menjadikan rentetan masalah yang salah satunya adalah semakin berkurangnya lahan untuk permukiman. Sehingga muncul permukiman- permukiman kumuh, pemanfaatan lahan yang tidak seharusnya menjadi lahan permukiman, seperti bantaran sungai, daerah pinggiran rel kereta api atau kolong jembatan. Selain itu juga konsumsi yang berlebihan untuk kenyamanan tinggal seperti perangkat elektronik dan sambungan telekomunikasi yang memerlukan energi berlebih. Terlebih lagi penggunaan bahan – bahan yang tak terbarukan dalam...
Menikmati Pedestrian

Menikmati Pedestrian

Pedestrian masih menjadi barang langka di negara kita tercinta, Indonesia. Bagaimana tidak? Di kota besar dan metropolitan, pedestrian sudah disediakan bagi para pejalan kaki yang tak jarang berukuran “pas badan” atau beralih fungsi menjadi area mengais rejeki. Entah itu pedagang maupun pengemis musiman. Pada saat itu juga pejalan kaki harus “tergusur” dari areanya. Selain lebar pedestrian yang rata-rata tak lebih dari 120cm, pohon peneduh pun jarang sekali ada. Berjalan menyusuri pedestrian sambil menikmati wajah kota, dapat menjadi salah satu potensi wisata lokal. Saya ingin menikmati pedestrian. Berjalan menyusurinya sambil menikmati wajah kota kesayangan saya. Sesekali duduk saat lelah di bangku taman. Syukur – syukur kalau ada kran air siap minum yang disediakan di samping bangku taman. Ya… saya ingin menikmati menyusuri pedestrian di kota kesayangan saya. Dan saya belum menikmatinya. Beberapa kali kesempatan saya mencoba meluangkan waktu berjalan di pedestrian yang saat ini ada. Ada sebagian penggal yang paving stone nya sudah tak jelas lagi penataannya. Sehingga menyulitkan saya berjalan. Lebar pedestrian yang tak lebih dari 1 meter, membuat saya harus berhati – hati saat berpapasan dengan pengguna pedestrian yang lain. Ada sebagian penggal lagi yang sudah berlubang sana sini, sekali lagi, saya harus berhati – hati melaluinya bila tidak ingin terperosok ke gorong – gorong di bawahnya. Memang ada beberapa tempat yang sudah ditata dengan baik, dengan lebar yang mencukupi untuk berjalan dengan nyaman. Namun saya belum menemukan elemen – elemen pendukung lain yang menambah nyaman perjalanan saya. Saya tidak bisa duduk saat saya lelah berjalan sekian meter, karena saya tidak menemukan bangku – bangku yang bisa saya duduki, yang bisa saya lakukan adalah duduk di pinggir –...
Konsep Green Architecture

Konsep Green Architecture

Sustainable development through green architecture. Beberapa pendapat mengatakan bahwa green architecture mahal untuk diterapkan. Benarkah? Bangunan hijau (atau dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan berkelanjutan) mengarah pada struktur dan pemakaian proses yang bertanggung jawab terhadap lingkunan dan hemat sumber daya sepanjang siklus hidup banguna tersebut, mulai dari pemilihan tempat, design, konstruksi, operasi, perawatan, renovasi dan peruntukan. Praktek ini memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik dalam hal ekonomi, utilitas, durabilitas dan kenyamanan. Meski teknologi baru terus dikembangkan untuk melengkapi praktek penciptaan struktur hijau saat ini, tujuan utamanya adalah bahwa bangunan hijau durancang untuk mengurangi dampak lingkungan bangunan terhadap kesehatan manusia dan li gkungan alami dengan: – Menggunakan energi, air dan sumber daya lainnya secara efisien. – Melindungi kesehatan penghuni dan meningkatkan produktifitas karyawan. – Mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan. Ada konsep sejenis bernama bangunan alami yang biasanya berukuran lebih kecil dan cenderung fokus pada penggunaan bahan alami yang tersedia di daerah sekitarnya. Konsep yang lain yaitu desain berkelanjutan dan arsitektur hijau. Keberlanjutan dapat diartikan sebagai memenuhi kebutuhan mereka. Banhunan hijau tidak secara khusus menangani masalah pembaharuan rumah yang sudah ada. Laporan U.S. General Services Administration tahun 2009 menemukan 12 bangunan yang dirancang secara berkelanjutan membutuhkan biaya yang lebih sedikit untuk beroperasi dan memiliki performa energi yang sangat baik. Selain itu, penghuni lebih puas dengan keseluruhan bangunan ini dibandinkan dengan pada bangunan komersial biasa. (Sumber: wikipedia) — Dari paparan tersebut di atas, terdapat beberapa pertanyaan yang cukup merepresentasikan kegelisahan saya atas image green architecture itu mahal. Semisal, benarkah penggunaan cross ventilation lebih mahal daripada pasang AC? Atau, benarkah penggunaan bukaan yang makaimal lebih mahal dari penerangan buatan? Benarkah pagar tanaman...
Ruang Terbuka Hijau

Ruang Terbuka Hijau

Akhir-akhir ini issue tentang RTH atau Ruang Terbuka Hijau menjadi topik yang hangat dibicarakan. Termasuk kami dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pun tak luput menjadikannya sebagai topik diskusi yang cukup menarik. Di awali dari rencana pengalihfungsian taman belakang Mayestik Jakarta menjadi pasar berlantai 4 yang ternyata hanya issue hingga berlanjut pada pernyataan Gubernur DKI yang menyampaikan kesulitan penambahan Ruang Terbuka Hijau di wilayah DKI Jakarta. Memang. Setidaknya dibutuhkan 1% dari luas Jakarta (657 km persegi) untuk dijadikan RTH baru. Mengutip pernyataan Putu Mahendra, tidak sulit untuk menciptakan Ruang Terbuka Hijau baru. Kita dapat menggunakan sisa kolong jembatan, pinggiran jalan, pinggiran sungai untuk dihijaukan (ditanami). Atau ide sederhana bagi para arsitek untuk meminta pada setiap client untuk menanam paling sedikit satu pohon untuk setiap pembangunan satu rumah/bangunan. Dengan demikian, jangankan 1% dari luas keseluruhan Jakarta, 30% pun masih sangat memungkinkan untuk diwujudkan. Ruang Terbuka Hijau sebaiknya ditinjau dari fungsinya, bukan hanya luasannya. Luas (kuantitas) yang sama dapat dilipatgandakan kinerja ekologisnya baik dari fungsi serap air maupun CO2-nya yang dapat dimanfaatkan secara lebih intensif. Masih kutipan dari kalimat Putu Mahendra, “preman yang tak pernah kuliah arsitektur saja bisa bagi-bagi lahan, apa kita mau juga jadi preman baik untuk pemukiman atau sejengkal lahan kota untuk menjadi yang greeny (kehijauan)?” Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan willingness dari pribadi masing-masing. Kesadaran akan pentingnya keberadaan Ruang Terbuka Hijau merupakan langkah awal perwujudan lingkungan yang hijau dan bermanfaat. Mau? — Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan suatu bentuk pemanfaatan lahan pada satu kawasan yang diperuntukkan bagi penghijauan tanaman. Ruang Terbuka Hijau yang ideal adalah 40% dari luas wilayah. Selain berfungsi sebagai sarana lingkungan, RTH juga berfungsi sebagai...